Informasi Tentang Candi Borobudur

Letak dan geografis

Ò     Terletak di Desa Borobudur, Magelang, Jawa Tengah
Ò     Terletak pada garis lintang 7º.36`.28`` LS dan 110º.12`.13`` BT
Ò     Dibangun di atas bukit dengan ketinggian 265 di atas permukaan laut
Ò     Sebelah Barat dan Selatan berbatasan dengan wilayah dataran Kedu (Bukit Menoreh)
Ò     Sisi Timur Laut berbatasan dengan Gunung Merapi dan Merbabu
Ò     Sisi Barat Laut berbatasan dengan Gunung Sumbing dan Sindoro
Ò     Berdekatan dengan Sungai Progo dan Elo.
Ò     Mempunyai ukuran panjang 121,66 m, lebar 121, 38 m, dan tinggi 35, 40 m. 



SEJARAH CANDI BOROBUDUR
 
Sejarah candi
Didirikan pada masa Dinasti Syailendra, ± abad 9 M
Casparis mengemukakan bahwa Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga dan diselesaikan oleh putrinya, Pramōdāwardhanī
Dihubungkan dengan 2 buah prasasti yang berangka tahun 824 M (P. Kayumwungan) dan 842 M (P. Tri Tpusan)
P. Kayumwungan ditulis dalam 2 bahasa: Sansekerta dan Jawa Kuna. Berisi mengenai Samaratungga dan Pramōdāwardhanī yang mendirikan sebuah bangunan suci agama Buddha dengan nama Śrīmad Wenuwana dan mentahbiskan arca Śrī Ghananatha di dalamnya
P. Tri Tpusan berisi tentang penetapan desa Tri i Tpusan menjadi sīma bagi kamūlān di Bhūmisambhāra.

Asal usul kata Borobudur

Ò     Menurut Raffles, Borobudur berasal dari kata Boro (nama desa) dan Bodo (kuno). Dilain waktu ia mengatakan bahwa Borobudur berasal dari kata serapan Bara Budha (Buddha yang baik)  
Ò      
Ò     Menurut Soekmono, berasal dari kata Boro (biara) dan Budur (bukit)


Ò     Mempunyai 4 pintu masuk
Ò     Borobudur tidak memiliki ruang melainkan memiliki lorong yang diperkirakan digunakan oleh para pemeluknya untuk bersembahyang
Ò     Para pemeluknya berjalan mengitari candi, teras demi teras searah dengan jarum jam (pradaksina)
Ò     Borobudur dibangun tanpa menggunakan material perekat, misal semen, melainkan menggunakan batu pengunci 



Kamadhatu
Ò     Melambangkan dunia manusia yang dipenuhi oleh nafsu sehingga terletak di kaki candi yang merupakan urutan terbawah dari bagian candi.
Ò     Terdapat relief Karmawibhangga yang bercerita mengenai alur kehidupan manusia pada saat hidup dan sesudah mati.  Secara garis besar menceritakan mengenai sebab-akibat.
Ditemukan pada tahun 1885 oleh arsitek Belanda, J. W. Ijzerman. Beberapa tahun kemudian batu-batu (dinding) yang menutupi relief Karmawibhangga dipindahkan untuk kemudian didokumentasikan oleh fotografer dari Jawa, Kassian Cephas. Setelah diambil gambarnya, batu yang dipindahkan kemudian dikembalikan ke tempat aslinya. Namun, tidak semua relief ditutup karena panil bagian Tenggara masih bisa dilihat hingga sekarang.
Rupadhatu
Ò     Merupakan dunia yang sudah terbebas dari nafsu, tetapi masih terikat dengan rupa atau wujud atau bentuk
Ò     Terletak pada Tingkat I- IV
Ò     Terdapat 72 stupa yang di dalamnya terdapat patung Buddha yang menghadap ke 4 arah mata angin
Ò     Terdapat beberapa relief cerita:
  1. Jataka dan Avadana: cerita mengenai Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pengeran Siddharta. Sedangkan Avadana, pelakunya bukan Sang Buddha, melainkan tokoh lain. Kedua relief tersebut menceritakan tentang kebaikan Buddha yang membedakannya dari makhluk lain.
  2. Lalitavistara: cerita mengenai kelahiran Buddha dan perjalanan hidupnya
  3. Gandawyuha dan Bhadracari: kisah seorang Bodhisattva bernama Suddhana yang berkelana untuk mencari kebenaran sejati 

  Arupadhatu
Ò     Berarti “tidak berwujud”
Ò     Identik dengan dunia kehampaan. Kehampaan tersebut diwujudkan dengan stupa yang besar, tinggi dan digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Tidak adanya pahatan relief karena Arupadhatu merupakan tingkatan tertinggi sehingga tidak terlihat lagi karena tidak terikat oleh wujud atau kebendaan. 


REKONSTRUKSI BOROBUDUR

Ò     Tahun 1814 St. Raffless mengutus asistennya, H. C. Cornelius untuk menyelidiki Borobudur yang saat itu masih dipenuhi oleh belukar. Cornelius dibantu oleh 200 orang kemudian membersihkan Borobudur dengan cara menebang pohon dan menyingkirkan belukar. Selain itu, Cornelius juga ditugaskan untuk menggambar dan mendeskripsikan Borobudur
Ò     Tahun 1885, Ijzerman menemukan adanya relief yang tertutup oleh batu pada bagian kaki candi. Relief tersebut adalah Karmawibhangga. Pada tahun 1890 Kasian Cephas ditugaskan untuk mendokumentasikan Relief Karmawibhanggga sebelum akhirnya ditutup kembali
Ò     Upaya rekonstruksi dilakukan oleh Theodore van Erp pada tahun 1907. Ia membersihkan batu-batu dan mulai merekonstruksi Borobudur. Selain itu, ia juga mempelajari penyebab rusaknya Borobudur sehingga bisa melakukan pencegahan
Ò     Tahun 1950 dengan dibantu oleh UNESCO, upaya rekonstruksi terus dilaksanakan
Ò     Pada Mei 1961, upaya rekonstruksi dihentikan karena ancaman gempa bumi dan dilanjutkan kembali pada
Ò     Upaya untuk merekonstruksi Borobudur terus dilakukan hingga masa kemerdekanaan. Banyak pihak yang terkait dengan upaya pemulihan tersebut
Ò     Arkeolog Indonesia yang terlibat dengan upaya rekonstruksi Borobudur diantaranya adalah Dr. R. Soekmono dan prof. Ir. R. Rooseno
Ò     Pada tahun 1991, Borobudur resmi dijadikan sebagai World Heritage (warisan dunia) 





Sumber :
ÒKempers, A. J. Bernet. Ageless Borobudur: Buddhist Mystery in Stone. Servire Wassenaar: Servire. 1976
ÒDjoened Poesponegoro, Marwati. Sejarah Nasional Indonesia 2. Jakarta: Balai Pustaka. 1993
ÒMagetsari, Nurhadi. Candi Borobudur (Rekonstruksi Agama dan Filsafatnya).Depok: FSUI. 1997



comment 0 komentar:

Poskan Komentar

Delete this element to display blogger navbar

 
© 2010 For Your Information is proudly powered by Blogger